S Pink Premium Pointer

Selasa, 18 April 2017

Fonologi

A.    FONOLOGI
Bahwa bahasa adalah sistem bunyi ujar sudah di sadari para linguistik. Oleh karena itu, objek utama kajian linguistik adalah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. Dari sini dapat dipahami bahwa material bahasa adalah bunyi-bunyi ujar. Kajian mendalam tentang bunyi-bunyi ujar ini diselidiki oleh cabang linguistik yang disebut fonologi. Oleh fonologi, bunyi-bunyi ujar ini dapat dipelajari dengan dua sudut pandang.
Pertama, bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai media bahasa semata, tak ubahnya seperti benda atau zat. ilmu yang mempelajari produksi bunyi bahasa itu disebut fonetik.
Kedua, bunyi-bunyi ujar dipandang sebaagai dari sistem bahasa. Bunyi-bunyi ujar merupakan unsur-unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian struktur kata dan yang sekaligus berfungsi untuk membedakan makna. ilmu yang mempelajari fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda makna disebut fonemik.

B.     BIDANG KAJIAN FONETIK
Berdasarkan dimana beradanya bunyi bahasa itu sewaktu dikaji, dibedakan adanya tiga macam fonetik, yaitu sewaktu bunyi itu berada dalam proses produksi di dalam mulut penutur, dia menjadi objek kajian fonetik artikulatoris atau fonetik organis. Suatu bunyi bahasa itu berada atau sedang merambat di udara menuju telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik akustik. Lalu, sewaktu bunyi bahasa itu sampai atau berada di telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik auditoris.

C.     PROSES BUNYI
Pada dasarnya bunyi bahasa adalah getaran atas benda apa saja karena adanya energi yang bekerja. Getaran bunyi ini cukup kuat dan dihantarkan ke alat dengar oleh udara sekitar. Sarana utama yang berperan dalam proses pembentukan bunyi bahasa
      1.      Arus Udara
Arus udara yang menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahasa. Arus udara ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi di ciptakan atas perintah saraf-saraf otak tertentu;apakah arus udara menuju keluar dari paru-paru (arus udara agresif), atau arus udara ke dalam atau menuju paru-paru (arus udara ingresif)
      2.      Pita Suara
Pita suara yang terletak dalam kerongkongan dalam posisi mendapar dari muka ke belakang merupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk ke paru-paru.
      3.      Alat Ucap
Alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi-bunyi bahasa ini mempunyai fungsi utama lain yang bersifat fisiologis. Jadi, tidak ada perbedaan oprasional yang berarti. Hanya soal pengaturan saja sehingga bisa difungsikan sebagai alat pembentukan bunyi.
Alat ucap atau alat bicara yang dibicarakan dalam proses memproduksi bunyi bahasa dapat dibagi atas tiga komponen, yaitu:

a)      Komponen supraglotal
Komponen supraglotal ini terdiri dari tiga rongga yang berfungsi sebagai lubang resonansi dalam pembentukan bunyi, yaitu rongga kerongkongan (faring), rongga hidung, dan rongga mulut.
Rongga kerongkongan yang terletak diatas laring ini merupakan tabung dan di bagian atasnya bercabang dua, yaitu yang berwujud rongga mulut dan rongga hidung. Peranan rongga kerongkongan ini hanyalah sebagai tabung udara yang akan turut bergetar apabila pita suara (yang terletak di laring) menimbulkan getaran pada arus udara yang lewat dari paru-paru.
Rongga hidung mempunyai bentuk dan dimensi yang relatif tetap dan tetapi dalam kaitannya dengan pembentukan bunyi mempunyai fungsi sebagai tabung resonansi. Peran ini terjadi ketika arus udara.

b)      Komponen subglotal
Komponen subglotal terdiri dari paru-paru ( kiri dan kanan), saluran bronkial, dan saluran pernafasan (trakea). Disamping ketiga alat ucap ini masih ada yang lain, yaitu otot-otot paru-paru , dan rongga dada. Secara fisiologis komponen ini digunakan untuk proses pernafasan, karena itu, komponen ini disebut juga sistem pernafasan. Lalu dalam hubungan nya dengan fonetik disebut sistem pernafasan subglotis. Fungsi utama komponen subglotal ini adalah “memberi” arus udara yang merupakan syarat mutlak untuk terjadinya bunyi bahasa.

c)      Komponen laring
Komponen laring(tenggorok) merupakan kotak yang terbentuk dari tulang rawan yang berbentuk lingkaran, didalamnya terdapat pita suara. Laring berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, hidung.
Dalam rangka proses produksi bunyi, pada laring inilah terjadinya awal mula bunyi bahasa itu; baik dengan aliran udara egresif maupun aliran aliran udara ingresif. Posisi glottis (celah di antara pita suara) menentukan bunyi yang diproduksi apakah bunyi bersuara, bunyi tak bersuara, atau bunyi glottal.


0 komentar:

Posting Komentar