S Pink Premium Pointer

Rabu, 17 Mei 2017

Morfologi

A. Pengertian Morfologi
Secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata. Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya morfem  adalah  satuan  gramatikal  yang  terkecil  sebagai satuan gramatikal,morfem mempunyai makna.
Morfemis adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. Misalnya sepeda menjadi bersepeda arti (sanksekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukan arti-arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda dan lain-lain.
B. Proses Morfologi
       Proses morfologi ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan)
C. Macam-macam Proses Morfologi dalam Bahasa Indonesia
1.      Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. Morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat berdiri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dan lain-lain. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian. Afiksasi terdiri atas:
a.    Prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-,ke-, se-),
b.    Sufiks (–kan, –an, –i),
c.    Infiks (–el-, -em-, -er-),
d.      Konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e.       Simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).

2.      Komposisi atau Pemajemukan
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh : Keras+kepala = keras kepala
Kamar+mandi=kamar mandi
Mata+pelajaran = mata pelajaran
Kumis+kucing = kumis kucing
Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing bukanlah kata majemuk. Pokok  kata  (tidak  bisa  diartikan  jika  sendiri),  tetapi  setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.

3.      Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah-rumah dari bentuk dasar rumah.
Macam-Macam Pengulangan
a)      Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks, misalnya sepeda menjadi sepeda-sepeda.
b)      Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya, misalnya lelaki, tetua, dedaunan
c)      Pengulangan yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, kereta-keretaan.
d)     Pengulangan dengan perubahan fonem kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit.
Disamping bolak-balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk dari bentuk dasarbalik” yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/ menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.

Aula utama ini sepertinya menjadi ruang penerima tamu bagi staf dan pengunjung markas. Juga menjadi pusat informasi dan layanan public. Aula terlihat terang benderang, memperlihatkan lantainya yang cemerlang, juga tiang-tiang tinggi dan atap aula yang terbuat dari mozaik kaca warna-warni. Ada meja-meja panjang di tengah aula, itulah yang menjadi masalah. Seli mengeluh melihat proyeksi. Karena ini pusat pemerintahan Klan Bintang, tentu saja masuk akal jika ada petugas yang berjaga di meja itu bahkan pada jam satu dini hari. Ada dua orang berpakaian sipil di meja panjang. Di sekitarnya ada delapan anggota Pasukan Bintang, membawa senjata tabung pendek.
(Matahari, Tere Liye)

Morfem Bebas
Morfem Terikat
Aula, utama, ini, seperti, jadi, ruang, terima, tamu, bagi, staf, dan, kunjung, markas, juga, pusat, informasi, layan, public, lihat, terang, benderang, lantai, yang, cemerlang, tiang, ringgi, atap, buat, dari, mozaik, kaca, warna, warni, ada, meja, panjang, di, tengah, itu, masalah. Seli, keluh, proyeksi, karena, perintah, Klan, Bulan, tentu, saja, masuk, akal, jika, tugas, jaga, bahkan, pada, jam, satu, dini, hari, dua, orang, pakai, sipil, sekitar, delapan, anggota, Pasukan, Bintang, bawa, senjata, tabung, pendek.
-nya:
     1.      Seperti + (-nya)
     2.      Lantai  + (-nya)
     3.      Sekitar + (-nya)
Pe(N)-, pe-, per-
     1.      Pe(N)- + terima
     2.      Pe(N)- + kunjung
     3.      Pe(N)- + tugas
     4.      Per- + lihat
Me(N)-, me-:
     1.      Me(N)- + jadi
     2.      Me(N)- + bawa
     3.      Me(N)- + keluh
     4.      Me(N)- + lihat
     5.      Me(N)- + perlihat
Ber-:
     1.      Ber- + jaga
     2.      Ber- + pakai
-an:
     1.      Pemerintah + -an
     2.      Berpakai + -an
     3.      Layan + -an
-kan: Memperlihat + -kan
Ter-:
     1.      Ter- + buat
     2.      Ter- + lihat
-lah: Itu + -lah
-em-: Perintah + -em-

73 morfem bebas
8 morfem terikat



DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi,  Hasan,  dkk  (peny).  1998.  Tata  Bahasa  Baku  Bahasa  Indonesia.  Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan (Fonologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI PRESS.

Daniel, Jos. 2007. Morfologi. Jakarta: Gramedia

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Tugas lainnya mana? diunggah secepatnya

Posting Komentar