S Pink Premium Pointer

Rabu, 31 Mei 2017

Hakikat Sastra Anak

A. Pengertian Sastra Anak
     Sastra anak-anak merupakan  karya  yang dari segi bahasa  memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman  ruhani bagi kalangan anak-anak. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 3-12 tahun. (Puryanto, 2008 : 2). Dan Pramuki  (2000) mengungkapkan bahwa  sastra anak-anak  adalah karya  sastra (prosa, puisi, drama) yang isinya mengenai anak-anak; sesuai kehidupan, kesenangan,  sifat-sifat, dan perkembangan anak-anak.
     Jadi dapat disimpulkan bahwa sastra anak adalah karya sastra yang didalamnya berisi nilai estetika dan hiburan yang secara kesulurahan dapat dipahami oleh anak yang berusia 3-12 tahun, dan disampaikan lewat orang yang lebih dewasa disekitarnya atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, melainkan juga bentuk drama.
 
B. Jenis Karya Sastra Anak
      Framuki (2000) mengemukakan bahwa sastra anak-anak yang bersifat imajinatif dapat dibagi atas tiga macam yakni puisi, prosa, dan drama. Berdasarkan pendapat tersebut sastra anak-anak dapat dibagi atas tiga macam sebagai berikut;
      1. Puisi
      Sudjiman (dalam Nadeak:1985:7) menyatakan bawa “puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Pendapat Mattew Arnold yang melihat dari segi keindahan pendendangannya bahwa  bahwa “puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif dan paling efektif mendendangkan sesuatu” (dalam Situmorang: 1981:9).  Berdasarkan pengertian tersebut dapatlha dikatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang berbentuk untaian  bait demi bait  yang relatif memperhatikan irama dan rima  sehingga sungguh indah dan efektif didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan bentuk karya sastra lainnya.   Waluyo (1987)  mengklasifikasi  puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan  isi atau gagasan yang hendak disampaikan , terbagi atas: puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif.
      Pada dasarnya puisi anak memiliki karakteristik antara lain (1)bahasanya sederhana, (2)bentuknya naratif, (3)berisi dimensi kehidupan yang bermakna dan dekat dengan dunia anak, dan (4)mengandung unsur bahasa yang indah dengan panduan bunyi pilihan kata dan satuan-satuan makna. 
      2. Prosa
      Surana (1984:105) mengemukakan pengertian  prosa sebagai bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa,  bukan puisi, terdiri atas kalimat-kalimat yang jelas pula runtutan pemikirannya, biasanya ditulis satu kalimat setelah yang lain, dalam kelompokkelompok yang merupakan alinea-alinea.  Pengertian prosa fiksi atau narasi  yang digambarkan oleh Aminuddin (2004:66)  Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelakupelaku  tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan  dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
      Berdasarkan kedua pengertian di atas  dapatlah kita mengatakan bawa prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas ragkaian  bait demi bait  tetapi dibuat atas rangkaian  paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur  unsur seperti tempat, waktu, suasana, kejadian, alur pristiwa, pelaku  berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif. 
      Hasyim (1981) mengemukakan  bahwa cerita yang diberikan kepada anak sebagai bahan belajar di Sekolah Dasar hendaknya memiliki ciri sebagai berikut: (a)Bahasa  yang digunakan haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa  anak.  (b)Isi ceritanya haruslah sesuai dengan tingkat umur dan perhatian anak. (c)Hendaknya jangan diberikan cerita yang bersendikan politik tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukan watak.  
      3. Drama
      Surana (1984) memberikan jawaban bahwa “drama adalah karangan prosa atau puisi berupa dialog dan keterangan laku untuk dipertunjukkan di atas pentas.” Pengertian drama yang disampaikan oleh Hermawan (1988:2) bahwa “drama merupakan cerita konflik manusia  dalam bentuk dialog yang diproyeksikan   pada pentas   dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton.”  
      Jadi, drama merupakan salah satu  karya sastra yang dipakai sebagai medium pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkain dialog antarpelaku dan adegan, yang tujuan utamanya  bukan untuk dibacakan secara estetis melainkan untuk dipertunjukkan. 
      Drama anak-anak tidak jauh beda dengan cerita anak-anak, baik dari segi bahasanya, tema, pesannya. Yang berbeda adalah dari segi dialog yang sederhana dan jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan berbelit.
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA 
Smith, Richard J. 1990. Using Poetry to Teach Reading and Language Arts. New York: Teacher College, Columbia University Press. 
Effendi. 1989. Bimbingan Apresasi Puisi. Bandung: Tangga Mustika 
Hasyim. 1981.  Pengajaran Sastra . Jakarta: Depdikbud
https://hanankaruniablog.wordpress.com/2015/12/10/sastra-anak-pengertian-jenisdan-karakteristik-dan/

Contoh Drama

Gigipun Sensitif 
Pelaku: Rani dan Shinta
     
      Saat jam istirahat, Rani berniat mengajak Shinta makan bakso di kantin sekolah. Rani suka sekali makan bakso.
Rani     : "Shinta, ayo kita makan bakso di kantin"
Shinta  : "Tidak, Rani. Aku sedang tidak ingin makan bakso"
Rani     : "Bilang saja kamu tidak mau temani aku" (sambil cemberut)
Shinta  : "Baiklah, aku temani kamu makan bakso"

     Rani tertawa senang karena keinginannya untuk makan bakso terwujud. Dua mangkok mie bakso yang masih panas dihidangkan di hadapan mereka, disusul dengan segelas teh dingin dan segelas air putih.
Setting: Kantin sekolah
Rani     : "Kamu, kok, cuma pesan air putih? Uangmu tidak cukup, ya?
Shinta  : "Bukan karena tidak cukup, tapi karena Ibuku berpesan agak tidak minum minuman dingin bersamaan dengan makanan panas. Itu bisa merusak gigi. Minum air putih lebih baik karena air putih memberi kesegaran yang dibutuhkan gigi"
Rani     : "Ah... Aku selalu minum air dingin setelah makan makanan panas, tapi tidak apa-apa, kok" (sambil memasukkan lagi sebuah bakso ke mulutnya)
Rani     : "Aduuuuhh...." (sambil memegang pipinya)
Shinta  : "Ada apa Rani?"
Rani     : "Gigiku ngilu! Tadinya aku abaikan saja, tapi sekarang bertambah ngilu dan sakit"
Shinta  : "Itu tandanya gigimu sensitif. Minum minuman dingin setelah makan makanan panas dapat membuat gigi ngilu, terutama pada gigi yang sensitif. Aku, kan, sudah bilang kalau itu bisa merusak gigi tapi kamu tetap ngotot"
Rani     : "Memangnya gigi bisa sensitif juga?
Shinta  : "Tentu saja, contohnya gigi kamu"
Rani     : "Kamu ini seperti dokter saja"
Shinta  : "Ibuku seorang perawat. Jadi, aku banyak mendapat informasi kesehatan dari beliau. Ibuku selalu menasihatiku agar menjauhi makanan yang tidak sehat. Tapi, kamu justru selalu menggodaku untuk mendekati makanan yg tidak sehat. Aku pun sering tergoda.
      Rani tidak memedulikan omongan Shinta. Ia mencoba untuk melanjutkan makannya.
Bersambung...

Membuat Kartun atau Karakter untuk Menjadi Tokoh Pembelajaran

      Jadi di isi blogku kali ini tentang tugas membuat sebuah kartun atau karakter yang nantinya akan menjadi "korban" saat proses belajar-mengajar berlangsung di dalam kelas (doain aja jadi guru, amin ya Allah, hehe). Berikut beberapa karakter yang sempat terpikirkan untuk membuatnya:  


Hello, I'm Shadow
Shadow adalah karakter ketiga dari 3 karakter yang sempat terlintas di pikiran author.  Shadow adalah karakter sejenis monster perempuan (ceritanya) berwarna biru. Tapi Shadow itu monster yang baik, ramah, cantik, kalo gak percaya, liat aja mukanya. Kelihatan kan kalau Shadow itu anak baik-baik.

Next,
Hai, Saya Kani si Kepiting Gunting
Ini dia karakter yang kedua, Kani si Kepiting Gunting. Kani dibuat sebelum Shadow. Kenapa namanya Kani si Kepiting Gunting? Kani adalah bahasa Jepang dari kepiting. "Kenapa pakai bahasa Jepang? kan ini pelajaran Bahasa Indonesia. ihhh, gak cinta Indonesia nih!!" Soalnya dulu di SMA kan jurusannya Bahasa, jadi dapat pelajaran bahasa Jepang, yah cuman campurin bahasa Jepang dikit buat nama aja masa gak boleh, dan itu bukan berarti gak cinta Indonesia. Lanjut ke kepiting gunting, jadi kenapa pilihnya kepiting gunting,liat aja di capitnya kek gunting. Awalnya mau buat capit yang kayak kepiting biasa, tapi nanti dikira Tuan Krab. Tidak hanya itu, capitnya dibuat seperti itu karena buat mudah kalau di suruh buat menjadi boneka.

Hello, aku Nessa
Ini dia, Ganessa atau Nessa, karakter pertama yg pertama dibuat sebelum 2 kartun di atas. Jadi, Nessa dibuat untuk contoh di kelas nantinya. Nessa sengaja dibuat berbentuk anak perempuan pada umumnya agar siswa menjadi menarik. Nessa dibuat dengan mendapat bantuan dari teman SMA author yg kuliah jurusan DKV di Surabaya *thanks koko Ardi*, Berkat dia, author bisa membuat Nessa terlihat lebih unyu dan agak nyata. Emang gambarnya tak terlalu bagus, soalnya sengaja biar percaya. Tapi setelah udah jadi, author mikir "kalau ini disuruh buat jadi boneka, gampang gak yah?". Jadi setelah mikir tadi, akhirnya muncul deh karakter 2 dan 3 di atas.


Q: Kenapa sih buat karakternya banyak?
A: Karena setelah diliat kembali, karakter 1 lebih rumit jika di buat menjadi boneka daripada karakter yang ke 3.

Permainan Anak dengan Lagu


Ular Naga


Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menjalar-jalar selalu kian kemari
Umpan yang lezat, itulah yang dicari
Kini dianya yang terbelakang
  • Asal Usul Cerita Ular Naga
    Permainan ular naga merupakan permainan tradisional Indonesia, Permainan ini memiliki nama yang berbeda dari setiap daerah, tetapi tata cara permainan dan aturannya tetap sama yang membedakan hanya lagu dan dialognya saja, Permainan ini biasanya dimainkan pada waktu sore dan malam hari, dilapangan atau tempat yang luas. Pemainnya biasanya sekitar 5-10orang atau lebih, anak-anak umur 5-12 tahun (TK-SD) Akan tetapi di dalam permainan ini terdapat mitos rakyat di dalamnya.

  • Langkah-langkah Permainan
  1. Anak-anak berbaris bergandeng pegang ‘buntut’, yakni anak yang berada di belakang berbaris sambil memegang ujung baju atau pinggang anak yang di mukanya. Seorang anak yang lebih besar, atau paling besar, bermain sebagai “induk” dan berada paling depan dalam barisan. Kemudian dua anak lagi yang cukup besar bermain sebagai “gerbang”, dengan berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan di atas kepala. “Induk” dan “gerbang” biasanya dipilih dari anak-anak yang tangkas berbicara, karena salah satu daya tarik permainan ini adalah dalam dialog yang mereka lakukan.
  2. Barisan akan bergerak melingkar kian kemari, sebagai Ular Naga yang berjalan-jalan dan terutama mengitari “gerbang” yang berdiri di tengah-tengah halaman, sambil menyanyikan lagu. Pada saat-saat tertentu sesuai dengan lagu, Ular Naga akan berjalan melewati “gerbang”. Pada saat terakhir, ketika lagu habis, seorang anak yang berjalan paling belakang akan ‘ditangkap’ oleh “gerbang”.
  3. Setelah itu, si “induk” –dengan semua anggota barisan berderet di belakangnya– akan berdialog dan berbantah-bantahan dengan kedua “gerbang” perihal anak yang ditangkap. Seringkali perbantahan ini berlangsung seru dan lucu, sehingga anak-anak ini saling tertawa. Sampai pada akhirnya, si anak yang tertangkap disuruh memilih di antara dua pilihan, dan berdasarkan pilihannya, ditempatkan di belakang salah satu “gerbang”.
  4. Permainan akan dimulai kembali. Dengan terdengarnya nyanyi, Ular Naga kembali bergerak dan menerobos gerbang, dan lalu ada lagi seorang anak yang ditangkap. Perbantahan lagi. Demikian berlangsung terus, hingga “induk” akan kehabisan anak dan permainan selesai. Atau, anak-anak bubar dipanggil pulang orang tuanya karena sudah larut malam.

  • Manfaat Permainan Ular Naga
  1. Untuk mengembangkan kemampuan emosional
  2. Mengajarkan anak mengutamakan partnership, karena dalam pemainan ini anak berinteraksi dengan teman sebayanya, inilah yang menjadi wahana untuk bersosialisasi
  • Daerah yang Memainkan Permainan Ular Naga
      Permainan yang dimainkan pada era 90an ini juga dipermainkan oleh anak-anak di daerah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahwa di seluruh Indonesia namun dengan liriknya sedikit berbeda baik menggunakan bahasa daerahnya masing-masing atau merubah sedikit kata-katanya.
  • Permainan Ular Naga Dapat Diajarkan di Kelas
      Permainan ini memang disarankan bermain di luar ruangan tetapi juga bisa dilakukan di dalam ruangan ataupun di dalam kelas. Jika di luar ruangan seperti lapangan, guru harus memperhatikan dan lebih mengawasi seluruh siswa dari awal permainan sampai permainan berakhir. Jika di dalam ruangan atau ruang kelas, sebelum melakukan permainan ular naga, kita perlu merapikan meja kursi terlebih dahulu. Memberikan ruang untuk siswa bermain dengan merapatkan seluruh meja dan kursi ke dinding, agar permainan berlangsung dengan baik.



Kotak Pos


“Kotak pos belum diisi mari kita isi dengan isi-isian, pak ogah minta huruf apa ? Lama-lama menjadi…."
  • Asal Usul Pemainan Kotak Pos
      Jenis permainan yang mirip dengan DoMiKaDo hanya bedanya dari syairnya, permainan ini biasanya disambung dengan permainan petak umpet. Tujuan akhir dari game ini adalah untuk menentukan nama samaran dari para pemain yang nantinya akan main petak umpet.
  • Langkah-langkah Permainan Kotak Pos
  1. Bermain kotak pos, bisa dilakukan 2 orang atau lebih. Jika berdua, duduk berhadapan dan tangan bersalaman, tapi jika lebih dari 2 orang duduk/berdiri melingkar, telapak tangan saling menumpuk bergantian dengan nyanyian.
  2. Jika lagu sudah sampai bertanya minta huruf apa, maka kegiatan meletakkan kepalan tangan akan dihentikan sejenak sampai yang terakhir diletakkan kepalan tangan oleh temannya itu mengungkapkan huruf apa yang ia inginkan. 
  3. Setelah lagu sudah sampai bertanya sebutkan apa saja, maka kegiatan meletakkan tangan ini sudah dihentikan. Dan yang terakhir menerima letakkan tangan oleh temannya itu harus menyebutkan jawabannya maksimal 1 secara bergiliran kearah kanan temannya. 
  4. Dalam permainan ini tidak boleh menyebutkan jawaban/kata yang sudah diungkapkan temannya. Dan jawaban yang mereka ungkapkan harus sesuai dengan nama yang ditentukan sebelum permainan tadi dan juga harus masuk akal. Jika ada anak yang tidak dapat menyebutkan saat gilirannya, maka anak tersebut yang kalah dalam permainan ini dan harus keluar. Dan teman-teman lainnya harus segera lari. Sehingga anak inilah yang bertugas untuk mengejar temannya sampai ada salah satu temannya yang tertangkap. Jika sudah ada salah satu temannya yang tertangkap, permainan selesai. 
  • Manfaat Permainan Kotak Pos
      Permainan ini bisa melatih konsentrasi anak saat menepuk telapak tangan teman sebelahnya, menyampaikan ide, menyebutkan kosa kata seperti buah-buahan, binatang, nama benda.
  • Daerah yang Memainkan Permainan Kotak Pos
     Jenis permainan yang dimainkan pada era 90an ini juga dipermainkan oleh anak-anak di daerah Jawa dan Kalimantan namun dengan liriknya sedikit berbeda baik menggunakan bahasa daerahnya masing-masing atau merubah sedikit kata-katanya.
  • Permainan Kotak Pos dapat Diajarkan Di Kelas
      Tentu saja permainan ini juga dapat dimainkan di kelas, namun karena permainan ini berakhir dengan permainan petak umpet, peserta yang ikut bermain harus merapatkan seluruh meja dan kursi terlebih dahulu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


http://www.bekasimedia.com/anak-anak-simpan-gadgetmu-kembalilah-ke-permainan-yang-benar/
http://ibttaw.blogspot.co.id/2015/06/mitos-di-balik-permainan-ular-naga.html



Senin, 22 Mei 2017

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sasta dan Sejarah Sastra

A.    Teori Sastra
Teori sastra menjelaskan kepada kita tentang konsep sastra sebagai salah satu disiplin ilmu humaniora yang akan mengantarkan kita ke arah pemahaman dan penikmatan fenomena yang terkandung di dalamnya. Dengan mempelajari teori sastra, kita akan memahami fenomena kehidupan manusia yang tertuang di dalam teori sastra. Sebaliknya juga, dengan memahami fenomena kehidupan manusia dalam teori sastra kita akan memahami pula teori sastra.

B.     Ruang Lingkup Ilmu Sastra
Menurut A. Teeuw, ilmu sastra meliputi ilmu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait dalam pengkajian karya sastra. Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.
Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan, dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.
Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.

C.     Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra
            Teori sastra memberikan dasar pemahaman kepada pembaca sastra, baik yang berupa berbagai konsep dasar tentang ciri-ciri, genre, sifat, funsi, konvensi, aliran, dan berbagai teori kajian sastra. Dasar pemahaman ini merupakan modal utama bagi seorang kritukus untuk mengkritik sebuah karya sastra. Kritik sastra tidak akan objektif dan maksimal, tanpa dasar teori sastra yang kuat. Untuk itu, teori sastra sangat dibutuhkan oleh seorang kritikus untuk menelaah, mengkaji, dan menilai suatu karya sastra. Hasil kajian, telaah, dan penilaian kritik sastra sangat dibutuhkan untuk penyusunan sejarah sastra. Dengan kritik sastra, dapat diketahui kecenderungan ciri estetika, intrinsik, maupun ekstrinsik dari suatu kelompok atau masa penciptaan karya sastra. Hal tersebut dijadikan dasar pengelompokan, pembabakan, atau periodisasi sejarah sastra. Demikian pila sebaliknya, hasil kajian dalam kritik sastra dan catatan sejarah sastra, dibutuhkan untuk pengembangan dan perkembangan teori sastra. Dengan demikian, antara teori sastra, kritik sastra, maupun sejarah sastra mempunyai hubungan yang erat dan saling membutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA
Fananie, Zainuddin. (1982). Telaah Sastra. Surakarta: Muhamadiyah University Press.
Luxemburg, et.al. (1982). Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Mido, Frans. (1982). Cerita Rekaan dan Seluk Beluknya. Ende, Flores: Nusa Indah 1994.
Semi Atar M. (1992). Anatomi Sastra. Bandung: Rosda Karya.
Sudjiman, Panuti. (1992). Memahami Cerita Rekaan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Suyitno. Sastra. (1986). Tata Nilai dan Eksegesis. Yogyakarta: Hanindita.
Tarigan Guntur H. (1986). Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Tjahjono Libertus, T. (1986). Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi. Ende, Flores: Nusa Indah.

Wellek & Warren A. (1986). Teori Kesusastraan (Diindonesiakan Melami Budianta).

Rabu, 17 Mei 2017

Morfologi

A. Pengertian Morfologi
Secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata. Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya morfem  adalah  satuan  gramatikal  yang  terkecil  sebagai satuan gramatikal,morfem mempunyai makna.
Morfemis adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. Misalnya sepeda menjadi bersepeda arti (sanksekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukan arti-arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda dan lain-lain.
B. Proses Morfologi
       Proses morfologi ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan)
C. Macam-macam Proses Morfologi dalam Bahasa Indonesia
1.      Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. Morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat berdiri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dan lain-lain. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian. Afiksasi terdiri atas:
a.    Prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-,ke-, se-),
b.    Sufiks (–kan, –an, –i),
c.    Infiks (–el-, -em-, -er-),
d.      Konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e.       Simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).

2.      Komposisi atau Pemajemukan
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh : Keras+kepala = keras kepala
Kamar+mandi=kamar mandi
Mata+pelajaran = mata pelajaran
Kumis+kucing = kumis kucing
Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing bukanlah kata majemuk. Pokok  kata  (tidak  bisa  diartikan  jika  sendiri),  tetapi  setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.

3.      Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah-rumah dari bentuk dasar rumah.
Macam-Macam Pengulangan
a)      Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks, misalnya sepeda menjadi sepeda-sepeda.
b)      Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya, misalnya lelaki, tetua, dedaunan
c)      Pengulangan yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, kereta-keretaan.
d)     Pengulangan dengan perubahan fonem kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit.
Disamping bolak-balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk dari bentuk dasarbalik” yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/ menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.

Aula utama ini sepertinya menjadi ruang penerima tamu bagi staf dan pengunjung markas. Juga menjadi pusat informasi dan layanan public. Aula terlihat terang benderang, memperlihatkan lantainya yang cemerlang, juga tiang-tiang tinggi dan atap aula yang terbuat dari mozaik kaca warna-warni. Ada meja-meja panjang di tengah aula, itulah yang menjadi masalah. Seli mengeluh melihat proyeksi. Karena ini pusat pemerintahan Klan Bintang, tentu saja masuk akal jika ada petugas yang berjaga di meja itu bahkan pada jam satu dini hari. Ada dua orang berpakaian sipil di meja panjang. Di sekitarnya ada delapan anggota Pasukan Bintang, membawa senjata tabung pendek.
(Matahari, Tere Liye)

Morfem Bebas
Morfem Terikat
Aula, utama, ini, seperti, jadi, ruang, terima, tamu, bagi, staf, dan, kunjung, markas, juga, pusat, informasi, layan, public, lihat, terang, benderang, lantai, yang, cemerlang, tiang, ringgi, atap, buat, dari, mozaik, kaca, warna, warni, ada, meja, panjang, di, tengah, itu, masalah. Seli, keluh, proyeksi, karena, perintah, Klan, Bulan, tentu, saja, masuk, akal, jika, tugas, jaga, bahkan, pada, jam, satu, dini, hari, dua, orang, pakai, sipil, sekitar, delapan, anggota, Pasukan, Bintang, bawa, senjata, tabung, pendek.
-nya:
     1.      Seperti + (-nya)
     2.      Lantai  + (-nya)
     3.      Sekitar + (-nya)
Pe(N)-, pe-, per-
     1.      Pe(N)- + terima
     2.      Pe(N)- + kunjung
     3.      Pe(N)- + tugas
     4.      Per- + lihat
Me(N)-, me-:
     1.      Me(N)- + jadi
     2.      Me(N)- + bawa
     3.      Me(N)- + keluh
     4.      Me(N)- + lihat
     5.      Me(N)- + perlihat
Ber-:
     1.      Ber- + jaga
     2.      Ber- + pakai
-an:
     1.      Pemerintah + -an
     2.      Berpakai + -an
     3.      Layan + -an
-kan: Memperlihat + -kan
Ter-:
     1.      Ter- + buat
     2.      Ter- + lihat
-lah: Itu + -lah
-em-: Perintah + -em-

73 morfem bebas
8 morfem terikat



DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi,  Hasan,  dkk  (peny).  1998.  Tata  Bahasa  Baku  Bahasa  Indonesia.  Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan (Fonologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI PRESS.

Daniel, Jos. 2007. Morfologi. Jakarta: Gramedia